wartabepe online

Media Informasi Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang versi Web Blog (WartaBePe Online)
Penanggung Jawab : Kajur JBP - Redaksi : Arifin Noor S, Mining W, C. Yudha P, Adi Y, Heri S, Wigati, A. Rochim -
Desain Grafis : C. Yudha P

Selasa, 31 Mei 2011

Prof Eko Widaryanto


Prof Dr Ir Eko Widaryanto SU
Prof Dr Ir Eko Widaryanto SU
Kelangkaan bahan bakar minyak di masa depan perlu diantisipasi dengan mempersiapkan energi alternatif. Energi alternatif yang perlu dikembangkan salah satunya adalah tanaman jarak pagar. Tanaman jarak pagar bisa menunjang kemandirian energi yang ramah lingkungan. Demikian disampaikan Prof. Dr. Ir. Eko Widaryanto SU dalam orasi ilmiahnya sebagai Guru Besar yang berjudul " Peluang dan Tantangan Tanaman Jarak Pagar (Jetropha curcas L) dalam Menunjang Kemandirian Energi yang Ramah Lingkungan." Senin (30/5) di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya. Eko dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Ilmu Ekologi Tanaman dan menjadi Guru Besar ke 46 untuk Fakultas Pertanian serta Guru Besar ke 197 untuk Universitas Brawijaya.

Potensi Tanaman Jarak Pagar

Tanaman jarak pagar (Jetropha curcas L) merupakan tanaman semak dengan kulit kayu keabu-abuan yang licin, berair dan meneteskan getah berwarna keputih-putihan ketika dipotong. Secara ekonomi, tanaman jarak pagar dapat dimanfaatkan seluruh bagiannya, mulai dari daun, buah, biji, kulit batang, getah dan batangnya. Di dalam biji terdapat inti biji dan kulit biji. Inti bijilah yang menjadi bahan dasar pembuatan biodiesel sebagai energi pengganti solar. Minyak yang diperoleh dari perasan biji bisa langsung dibakar tanpa dilakukan pemurnian. Minyak dari biji jarak pagar juga merupakan bahan bakar nabati yang ramah lingkungan.

Desa Mandiri Energi (DME)

Desa Mandiri Energi (DME) adalah desa yang masyarakatnya memiliki kemampuan memenuhi lebih dari 60% kebutuhan listrik dan bahan bakar dari energi terbarukan. Energi ini dihasilkan melalui pendayagunaan potensi sumber daya setempat. DME berbasis jarak pagar merupakan kegiatan pembangunan pedesaan/wilayah, melalui pengembangan tanaman bahan bakar nabati khususnya jarak pagar. Tujuan utamanya tak lain untuk mencukupi kebutuhan energi maupun peluang pengembangan kapasitas produksi di desa/wialyah bersangkutan.

Mandiri Energi Berbasis Tanaman Jarak Pagar

Prof. Eko memaparkan ada dua skenario dalam pencapaian Mandiri Energi dalam penelitiannya. Pertama, biji jarak pagar sebagai bahan baku pembuatan biodesel, PPO (Pure Plant Oil) dan biokerosin berdasarkan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah dan rendemen biji jarak. Kedua, biji jarak sebagai bahan bakar kompor untuk skala rumah tangga.

Prof. Eko juga telah menciptakan kompor UB-16 dan merupakan desain dari UB sendiri yang merupakan modifikasi dari kompor minyak tanah. Pemanfaatan inti biji jarak sebagai bahan bakar kompor, dapat menjadi peluang baru bagi para pengusaha kompor minyak tanah yang mulai gulung tikar dengan adanya kebijakan pemerintah dalam konversi minyak tanah ke gas. Hasil penelitian sederhana menunjukan bahwa kompor dengan bahan dasar inti biji jarak pagar mempunyai nilai kelayakan yang tinggi untuk digunakan sebagai alat memasak dalam rumah tangga.

Pada penelitian uji kelayakan kompor UB-16, 200g inti biji (kernel) jarak pagar yang dinyalakan pada kompor ini menghasilkan energi panas selama 1 jam. Memanaskan air sebanyak 1,5 liter (1,47 kg) sampai mendidih memerlukan waktu 8 menit. Hal ini berarti, untuk mendidihkan air 1,5 liter membutuhkan biji jarak pagar sebanyak (200 g/50 menit) x 8 menit = 26,67 g per 1,47 kg air atau 18,14 g kernel per kg air.

Tantangan dan Pengembangan ke Depan

Kendala utama untuk pengembangan jarak pagar secara besar-besaran adalah karena kurangnya pengetahuan tentang potensi hasil dalam kondisi sub-optimal dan marjinal. Hal ini membuat sulit untuk memprediksi hasil dari perkebunan masa depan pada kondisi sub-kondisi pertumbuhan yang optimal, kondisi dimana jarak pagar seharsunya membuktikan nilainya.

Adapun penelitian-penelitian yang harus segera dilakukan berkaitan dengan rindakan budidaya tanaman jarak pagar meliputi; pemilihan varietas, pengelolaan tanaman di lapang yang meliputi bibit, pengolahan tanah, jarak tanam, pemupukan, pengairan, pengendalian hama dan penyakit serta menerapkan pola tumpangsari.

Curriculum Vitae

Prof. Dr. Ir. Eko Widaryanto, MS lahir di Kediri 54 tahun silam. Menyelesaikan pendidikan sekolah dasar hingga menengah atas di kota kelahirannya. Suami dari Ir. Hari Setyo Wahyuni ini meraih gelar Sarjana dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (1980), Master (1985) dan Doktor (2008).Prof. Eko adalah pencipta kompor biji jarak pertama di Indonesia. Berbagai informasi tentang penemuannya ini bisa di akses lewat website pribadinya dengan alamat www.komporbijijarak.com.[arr]

SELAMAT YA PAK!!!!!

Tidak ada komentar: